![]() |
| Roti Bakar Edi Klasik |
Roti bakar Bandung bukan sekadar camilan malam. Ia adalah bagian dari cerita kuliner rakyat yang tumbuh sederhana, lalu menjelma menjadi ikon jajanan nusantara. Dari gerobak kaki lima hingga kedai modern, roti bakar Bandung punya perjalanan panjang yang menarik untuk ditelusuri.
Awal Mula Roti Bakar di Bandung
Sejarah roti bakar Bandung tidak bisa dilepaskan dari perkembangan kota Bandung pada era 1950–1960-an. Saat itu, Bandung dikenal sebagai kota pelajar dan kota dingin yang hidup hingga malam hari. Banyak masyarakat mencari makanan hangat, murah, dan mengenyangkan.
Roti tawar sendiri sudah dikenal sejak masa kolonial Belanda. Namun, masyarakat lokal mulai mengolahnya dengan cara lebih sederhana: dipanggang di atas arang atau wajan besi, lalu diisi bahan yang mudah didapat seperti mentega dan gula pasir.
Inilah cikal bakal roti bakar pertama di Bandung.
Dari Mentega dan Gula ke Cokelat dan Keju
![]() |
| Roti Bakar Bandung |
Pada awal kemunculannya, roti bakar Bandung hanya memiliki satu rasa: mentega dan gula. Rasanya manis, aromanya wangi, dan teksturnya hangat. Sangat cocok disantap malam hari di udara Bandung yang sejuk.
Seiring waktu, muncul inovasi rasa:
* Cokelat meses
* Keju parut
* Selai stroberi dan nanas
* Kacang tanah tumbuk
Kombinasi legendaris cokelat–keju kemudian menjadi ciri khas roti bakar Bandung hingga sekarang.
Mengapa Disebut Roti Bakar Bandung?
Nama “roti bakar Bandung” muncul karena kota Bandung menjadi pusat perkembangan jajanan ini. Para pedagang kaki lima di kawasan Dago, Braga, Cicadas, hingga sekitar kampus mulai menjual roti bakar pada malam hari.
Mahasiswa dan pekerja malam menjadikannya camilan favorit. Dari sinilah popularitas roti bakar Bandung menyebar ke kota-kota lain di Indonesia.
Ketika pedagang merantau dan membuka usaha serupa di Jakarta, Surabaya, hingga Sumatra, mereka tetap menggunakan nama “roti bakar Bandung” sebagai identitas.
Perkembangan Roti Bakar Hingga Era Modern
Memasuki tahun 1990-an hingga 2000-an, roti bakar mengalami banyak perubahan. Tidak lagi hanya dijual di gerobak, tetapi juga hadir di:
* Kafe
* Kedai kekinian
* Waralaba modern
Isian pun semakin beragam:
* Green tea
* Tiramisu
* Oreo
* Nutella
* Keju mozzarella
* Daging asap dan telur
Meski begitu, versi klasik tetap bertahan dan dicintai lintas generasi.
Roti Bakar sebagai Ikon Kuliner Malam
Roti bakar Bandung memiliki makna lebih dari sekadar makanan. Ia menjadi simbol:
* Kebersamaan
* Obrolan malam
* Kesederhanaan rasa
Banyak orang mengaitkan roti bakar dengan kenangan masa muda, nongkrong, dan kehangatan keluarga.
Warisan Kuliner yang Tetap Bertahan
Hingga hari ini, roti bakar Bandung tetap eksis. Di tengah maraknya makanan modern, roti bakar tidak kehilangan penggemar. Justru sebaliknya, ia terus beradaptasi tanpa meninggalkan akarnya.
Dari bara api sederhana hingga pemanggang modern, dari mentega gula hingga puluhan varian topping, roti bakar Bandung adalah bukti bahwa kuliner sederhana bisa bertahan puluhan tahun.
Penutup
Roti bakar Bandung pertama kali hadir sebagai solusi lapar malam hari. Sederhana. Murah. Menghangatkan. Namun dari kesederhanaan itulah lahir salah satu ikon kuliner Indonesia yang terus hidup hingga kini.
Satu gigitan roti bakar bukan hanya soal rasa, tetapi juga sejarah dan kenangan.

